Jombang,hobbykeren.com – Momentum Santri sebagai Agen Perubahan dan Benteng Moral Bangsa. Memperkuat adab dan Integritas refleksi hari santri nasional 2025, santri sebagai pengawal peradaban bangsa.
Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Kepuhdoko (dulunya Pondok Doko) dan Darul Ulum Rejoso Peterongan memiliki hubungan emosional dan sejarah. Nama Darul ‘Ulum diambil dari sebuah pesantren di Makkah tempat KH. Dahlan Kholil (Rejoso) belajar. Nama tersebut diberikan kepada Pondok Doko pada tahun 1942, saat peresmian gedung M.I., oleh KH. Dahlan. Pondok Doko memiliki peran sentral dalam sejarah Nahdlatul Ulama (NU).
Menjelang tanggal 22 Oktober 1945, KH. Wahab Hasbullah mengumpulkan warga NU di Pondok Doko untuk ikut apel Resolusi Jihad di Surabaya. Pondok Doko dan Pojokkulon juga menjadi markas Laskar Hizbullah saat Agresi Belanda 1948 (Perang Gedeg). Hubungan erat ini menegaskan kontribusi pesantren Jombang sebagai pengawal persatuan dan kemerdekaan bangsa
Sedangkan jaman Modern ini, peringatan Hari Santri Nasional tahun 2025 diharapkan para santri dapat mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan meninggalkan tradisi pondok. Hal ini disampaikan oleh pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Kepuhdoko KH. Mustain saat di konfirmasi oleh awak media di ruangannya. Rabu (22/10/25)
KH. Mustain Hasan atau yang disering disapa Kyai Tain menyebutkan, para santri akan dididik untuk mengikuti perkembangan, menjaga kesatuan dan persatuan, serta dapat memahami program-program dari Pemerintah Kabupaten Jombang dan Undang-Undang Dasar 1945.
“Saya juga berharap dengan adanya Hari Santri Nasional ini yang kita peringati dapat menunjukkan kepada masyarakat seluruh Indonesia bahwa para ulama-ulama di Kabupaten Jombang ikut berjuang membela tanah air saat tragedi 10 November,” ucapnya.
Hari ini tanggal 22 Oktober 2025 di Halaman Ponpes Kepuh Doko berlangsung Upacara Hari Santri . Momen tersebut diadakan upacara Hari Santri oleh KH Mustain Hasan, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Kepuhdoko Tembelang Kabupaten Jombang.
Upacara Hari Santri tersebut dipimpin oleh Moh Syarif Hidayatullah yang akrab disapa Gus Sentot pengasuh ponpes Darul Ulum Peterongan.
Dalam amanatnya Gus Sentot menyampaikan, Peringatan Hari Santri Nasional sesungguhnya adalah momentum yang penting dan mendalam, yang menjadi pengingat bagi kita semua. Ini bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi sebuah penegasan akan peran strategis yang melekat pada diri setiap santri.
Sudah saatnya, dan memang demikianlah seharusnya, santri menjadi agen perubahan (agent of change) dan benteng moral bangsa. Dengan bekal ilmu agama yang kokoh, serta semangat nasionalisme, santri memiliki tanggung jawab moral untuk memimpin masyarakat menuju kehidupan yang lebih beradab, adil, dan sejahtera. Di tengah derasnya arus globalisasi dan tantangan zaman, santri adalah penjaga nilai-nilai luhur dan akhlak karimah yang menjadi pondasi kuat bagi masa depan Indonesia.
Tema Hari Santri Nasional Tahun ini Adalah “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia” Tema ini memiliki dua makna utama: mengawal Indonesia merdeka berarti mempertahankan kemerdekaan fisik dan spiritual agar Indonesia tetap pada jalur cita-cita pendiri bangsa, sedangkan menuju peradaban dunia berarti santri harus menjadi agen perubahan dengan menguasai ilmu pengetahuan modern, moderasi beragama, serta menjadi inovator dan kontributor bagi kemajuan dunia.
Menurut Gus Sentot, Peringatan hari santri bukan Sekadar Seremonial, tetapi peneguhan peran pembangunan
“Momen Hari Santri ini bukan hanya acara seremonial semata. Kita harus menjadikannya sebagai kesempatan emas untuk meneguhkan kembali peran fundamental santri dalam pembangunan bangsa. Peran ini terbentang luas, mulai dari bidang pendidikan, ekonomi, sosial, hingga politik. Kontribusi santri adalah kontribusi yang paripurna, menggabungkan spiritualitas yang tinggi dengan intelektualitas yang mumpuni, serta komitmen kebangsaan yang tak diragukan lagi, ” ujarnya.
Sedangkan Pondok Doko memiliki peran sentral dalam sejarah Nahdlatul Ulama (NU). Menjelang 22 Oktober 1945, KH. Wahab Hasbullah mengumpulkan warga NU di Pondok Doko untuk ikut apel Resolusi Jihad di Surabaya. Pondok Doko dan Pojokkulon juga menjadi markas Laskar Hizbullah saat Agresi Belanda 1948 (Perang Gedeg). Hubungan erat ini menegaskan kontribusi pesantren Jombang sebagai pengawal persatuan dan kemerdekaan bangsa.
“Kita semua patut bersyukur atas pengakuan resmi negara terhadap jasa para santri. Hari Santri Nasional ditetapkan oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo, pada tahun 2015 melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Penetapan ini merujuk pada peristiwa bersejarah tanggal 22 Oktober 1945, yakni dikeluarkannya Resolusi Jihad oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari di Surabaya, ” paparnya
Sementara itu Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua telah berjasa membentuk karakter dan akhlak bangsa. Di pesantren Jombang, nilai-nilai luhur itu bersumber dari karya agung ulama kita, seperti Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Kedua kitab ini mengajarkan esensi tentang tata krama mencari ilmu, penghormatan kepada guru, pentingnya niat tulus, serta disiplin dalam menuntut ilmu.
“Di era digital ini, kita menyaksikan pemberitaan di salah satu TV nasional yang dinilai menampilkan pesantren secara tidak proporsional. Sikap kita harus mencerminkan nilai-nilai pesantren santun, tabayyun (klarifikasi), dan mengedepankan kebijaksanaan. Memuliakan orang tua, guru, dan para ulama adalah hal yang sangat penting dalam ajaran Islam. Kiai, Guru, dan Ulama merupakan pewaris para Nabi (warasatul anbiya), pembimbing spiritual sekaligus pendidik akhlak. Menghormati mereka merupakan wujud pengamalan keagamaan yang mendalam sekaligus wujud mengagungkan Nabi Muhammad SAW, ” ungkapnya
Di akhir sambutan, Gus Sentot mengajak seluruh santri, alumni, dan masyarakat Jombang untuk senantiasa menjaga persatuan (ukhuwah) dan terus ber-khidmah (mengabdi) untuk kemaslahatan umat.
“Sebagai penutup, dapat kita simpulkan bahwa Hari Santri Nasional 2025 adalah momen refleksi dan proklamasi: Bahwa Santri harus tampil sebagai garda terdepan penjaga moral dan persatuan bangsa. Dengan bekal nilai-nilai pesantren, ilmu, dan adab yang diajarkan oleh para Kiai, santri Jombang harus menjadi pelopor pembangunan, bijak dalam bersosial media, dan terus ber-khidmah untuk mewujudkan Indonesia yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur, ” pungkasnya.(R)

























